Profesionalisme Pengawas Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan


                                                                                          Oleh: Tua Dasius Sitanggang

Pendahuluan 

Pengawas sekolah merasa lega dengan terbitnya  Peraturan Pemerintah no 74 tahun 2008 tentang Guru pada pasal 15 ayat 4 menyatakan bahwa guru yang diangkat dalam jabatan pengawas satuan pendidikan melakukan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan. Tugas pengawasan yang dimaksud adalah melaksanakan kegiatan pengawasan akademik dan pengawasan manajerial. Hal ini menjadi tumpuan dimana  pengawas sekolah dapat disertifikasi dilandasi lagi dengan  terbitnya peraturan Menteri Pendidikan Nasional  nomor 10 tahun 2009 tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan. Dengan sertifikasi ini diharapkan  pengawas sekolah lebih profesional dalam melaksanakan kepengawasannya, semuanya ini tentu mengacu kepada standar pengawas sekolah.

Sesuai Permendiknas Nomor 12 tahun 2007, pengawas sekolah harus memiliki 6 (enam) kompetensi yang terdiri: 1. Kompetensi keperibadian, 2. Kompetensi Supervisi Manajerial, 3. Kompetensi Supervisi Akademik, 4. Kompetensi Evaluasi Pendidikan, 5.Kompetensi Penelitian Pengembangan, dan  6. Kompetensi Sosial. Pemenuhan beban kerja guru dan pengawas satuan pendidikan juga harus mengacu kepada  peraturan menteri pendidikan nasional Nomor 39 tahun 2009. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah pengawas kita mampu/ memiliki kompetensi kepengawasan yang diinginkan sesuai tuntutan tugas dan tanggung jawabnya ?

Ruang lingkup kerja seorang pengawas harus mengacu kepada aturan yang sedang berlaku saat ini, seperti diuraikan  pada Buku Kerja Pengawas Sekolah Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik Dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan Nasional 2010 (2010:17) menjelaskan, bahwa ruang lingkup kerja kepengawasan meliputi kepengawasan akademik dan kepengawasan manajerial.

Kepengawasan Akademik terdiri dari : (1) pembinaan guru, (2) pemantauan pelaksanaan standar nasional pendidikan di sekolah terdiri atas, (3) Standar isi, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar penilaian pendidikan, (4) penilaian kinerja guru, (5) pembimbingan dan pelatihan profesional guru, (6) Penilaian Kinerja Guru Pemuladalam program Induksi Guru Pemula (berkaitan dengan pemberlakuan Permenpan nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dan (7) Pengawasan pelaksanaan Program Induksi Guru Pemula.

Untuk Kepengawasan Manajerial terdiri dari: (1) Pembinaan Kepala sekolah, (2) Pemantauan pelaksanaan standard Nasional Pendidikan, (3) pendidik dan tenaga kependidikan, standard pengelolaan, standard sarana dan prasana, serta standard pembiayaan dan (4) Penilaian kinerja kepala sekolah

Untuk kedua tugas pengawas sekolah di atas, pengawas sekolah harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan tugas guru dan kepala sekolah sesuai dengan tuntutan standar kompetensi guru dan kepala sekolah. Untuk itulah pengawas sekolah membuat program kepengawasan sesuai dengan tujuan kepengawasan masing-masing apakah untuk Kepengawasan Akademik maupun Kepengawasan Manajerial.

Atas dasar itulah  kegiatan pengawasan harus difokuskan dengan sasaran guru dalam Pengawasan Akademik dan kepala sekolah dalam Pengawasan Manajerial. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian kinerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat kondisi nyata kinerja guru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas ? Apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas ? Aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang bermakna bagi guru dan murid? Apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik? Apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana cara mengembangkannya ?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Dengan demikian seorang pengawas sekolah mampu memprogramkan supervis akademik dan bagaimana tindak lanjut dari  program supervisi akademik itu.

Lebih lanjut dapat disimpulkan bahwa fokus supervisi ini ditujukan pada pelaksanaan bidang garapan manajemen sekolah, yang antara lain meliputi: (a) manajemen kurikulum dan pembelajaran, (b) kesiswaan, (c) sarana dan prasarana, (d) ketenagaan, (e) keuangan, (f) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (g) layanan khusus.

Untuk melakukan supervisi terhadap point-point di atas, pengawas sekolah juga dituntut melakukan pemantauan terhadap delapan komponen pelaksanaan standar nasional pendidikan, yaitu: (a) standar isi, (b) standar kompetensi lulusan, (c) standar proses, (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (e) standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan (h) standar penilaian. Tujuan supervisi terhadap kedelapan aspek tersebut adalah agar sekolah terakreditasi dengan baik dan dapat memenuhi standar nasional pendidikan.

Agar supervisi Manajerial dan Akademik dapat terlaksana dengan baik sesuai tuntutan Standar Pengawas maka pengawas sekolah perlu membuat Perencanaan dan Pelaksanaan Pembelajaran yaitu Rencana Program Kepengawasan  dalam bentuk Tahunan dan Semester serta Rencana Kepengawasan Akademik (RKA) dan Rencana Kepengawasan Manajerial (RKM) serta membuat  Sistimatika laporan pelaksanaan program kepengawasan

 

Pengawas Sekolah Berkualitas mendukung Pendidikan Yang Bermutu

Pengawas sekolah yang berkualitas mendukung pendidikan yang bermutu dalam konteks tulisan  ini adalah pengawas sekolah mampu meningkatkan mutu proses pembelajaran dan hasil belajar maupun kinerja sekolah. Mutu proses mengacu kepada standar proses seperti yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah lebih tandas dikatakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pada bab 1, pasal 1, ayat 6 menyatakan, ”Standar proses adalah standar naisonal pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.” Standar kompetensi lulusan ditegaskan pada ayat 4 seperti berikut, ”Standar kompetensi lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.”

Jadi   mutu proses yang mengacu kepada standar proses dan mutu hasil yang mengacu kepada standar komepetensi lulusan. Mutu proses memiliki hubungan kausal dengan mutu hasil. Jika proses  pembelajaran bermutu, tentulah standar komptensi lulusan dapat dicapai dengan bermutu pula.

Pada pengawasan manajerial seorang pengawas sekolah       harus mampu berkolaborasi dengan kepala sekolah untuk menerapkan sejauhmana yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 Tanggal 23 Mei 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,  Pada Pasal 1 ayat 1   dinyatakan (1) Setiap satuan pendidikan wajib memenuhi standar pengelolaan pendidikan yang berlaku secara nasional. Dalam hal ini kepala sekolah harus mampu yang minimalnya mengarah kepada standar pengelolaan hal ini juga melihat kondisi dan situasi daerah sekolah itu sendiri, Tentu saja kepala sekolah bukan satu-satunya determinan bagi efektif tidaknya suatu sekolah karena masih banyak faktor lain yang perlu diperhitungkan. Ada guru yang dipandang sebagai faktor kunci yang berhadapan langsung dengan para peserta didik dan masih ada lagi sejumlah masukan instrumental dan masukan lingkungan yang mempengaruhi proses pembelajaran. Namun, kepala sekolah memainkan peran yang termasuk sangat menentukan.

 Oleh karena itu, sertifikasi pengawas sekolah sangat mendukung dalam meningkatkan kinerja pengawas sekolah baik dalam kepengawasan Akademik maupun kepengawasan Manajerial, karena tuntutan dari sertifikasi pengawas sekolah seorang pengawas sekolah harus benar benar memiliki 6 kompetensi kompetensi yang dilakukan secara professional.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan, bahwa peranan pengawas sangat strategis di dalam melakukan fungsi supervisi akademik dan manajerial di sekolah. Sebagai supervisor akademik, pengawas sekolah  dituntut memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan di bidang proses pembelajaran sehingga ia dapat memainkan peranan dan fungsinya membantu guru dalam meningkatkan proses dan strategi pembelajaran, sedangkan sebagai supervisor manajerial  pengawas sekolah  dituntut untuk memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan di bidang manajemen dan leadership sehingga pengawas sekolah  dapat memainkan peranan dan fungsinya membantu kepala sekolah  dalam mengelola sumberdaya sekolah  secara efisien dan efektif.

Seorang pengawas sekolah juga harus dapat  membina kepala sekolah untuk mampu membawa berbagai perubahan di sekolah yang akhirnya  mempertinggi kinerja sekolah agar dapat meningkatkan mutu pendidikan pada sekolah yang dibinanya, maka  terbuktilah  manfaat sertifikasi pengawas sekolah bagi   seorang pengawas sekolah memang untuk meningkatkan melaksanakan tugas kepengawasannya  sehingga    berjalan secara efektif dan efisien, yang terdiri  aspek pelaksanaan tugas pembinaan, pemantauan, penilaian dan pelatihan profesional guru dapat melakukan pengawasan Manajerial yang mampu sebagai   (1) fasilitator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, (2) asesor dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan serta menganalisis potensi sekolah, (3) informan pengembangan mutu sekolah, dan (4) evaluator terhadap hasil pengawasan.

*) Dikutip dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s